Saturday, February 9, 2013

Japan Work Trip (28 Januari - 3 Februari 2013)

Ini adalah work trip terjauh saya. Jepang. Ya, setelah tahun lalu perjalanan menuju negeri Sakura ini gagal karena masalah Visa, akhirnya saya mendapat kesempatan lagi bertolak ke sana.

Kali ini, urusan visa lancar.

Undangan pergi ke sana datang dari Canon. People say, i was so lucky to receive that calling. But I personally say that it was a tough job, with lot of pressure. Saya bahkan ga sempet mikirin bakal mau eksplore tempat mana saja selama di sana or simply what to buy there.

Yang ada di pikiran sebelum berangkat hanya...pertanyaan-2 yg saya siapkan untuk interview dan persiapan materi-2 kerjaan lainnya. Remember, this isn't a holiday. This is a work trip! ^^

But, i would lie if there's no fun upon it. Kalau mau diprosentase.... 30:70 lah. 30 fun-nya, sisanya pressure dan work work work. Haha :D

Di blog ini saya hanya akan nulis soal fun-nya saja ya selama seminggu di sana (5 full days + 2 days for trip).

Let's begin with..


#Japan day 1

Perjalanan dari Soekarno Hatta, Jakarta menuju Narita, Tokyo memakan waktu sekitar 6 setengah jam. It was direct flight using Garuda Indonesia airlines.

Berangkat tengah malam, pesawat yang kami tumpangi sangat2 lowong. Beberapa penumpang memanfaatkannya untuk tidur di 3 seat dg enaknya. Mau pindah-2 seat juga gak dilarang. Tapi mengingat di penerbanhgan sebelumnya, temen di sebelah saya pernah ga mau tuker tenpat dg alasan, "nanti kalo crush, nomor seat penting untuk identifikasi (jasad) penumpang, jangan sampai saya 'tertuker' dg kamu. Since that

Dan seumur-umur, saya baru lihat korannya Yasuhiro di sini. Doi emang kerja di Jakarta Shimbun. Tapi saat saya ke Jepang, dia masih nyangkut di Filipin. Kami udah pernah bahas ini sebelumnya, dan no problem.

Oke, lanjut. Selama di Jepang kami menginap di Cerulean Tower Tokyu Hotel kawasan Shibuya. Embel-embelnya adalah a luxury hotel in Tokyo. Namun hanya satu hal yang bagi saya menarik mengenai hotel ini, yakni saya bisa melihat gunuing Fuji dari kejauhan lewat salah satu jendela kamar saya. Seperti ini:



Begitu sampai hotel, bersama rombongan dari negara Asia lain, kami langsung dibawa ke Asakusa, salah satu tempat beribadah penganut agama Budha yang paling terkenal di sana.

ASAKUSA

Cuaca saat itu kira-2 10 derajat Celcius. Along the way to the main temple, di kanan kiri berjejeran toko cindera mata yg menjual pernak-pernik tradisional Jepang. Satu hal yg saya sesali, I didn't spent my single Yen there dg pikiran bahwa saya akan menjumpai toko serupa. I was wrong -______-.

And here you go some pics taken from the place:










(Taken with Sony RX100)

Before went to the hotel, we had shabu-shabu for lunch (I forget the name of the restaurant), but it wasn't too far from the temple.

No work stuff on the first day :). And in the end of the day, Canon took us to Inakaya for dinner.

INAKAYA Roppongi

I won't forget this finest place in town. If u had enough time, do googling about this place. Kalimat yg cocok untuk tempat ini adalah 'strange & unique in a beautiful way'.

Unique? Definitely!

Akiko, tour guide kami awalnya sudah memberi 'peringatan' pada kami bahwa tempat ini akan sangat berisik dengan adanya 'backsound' yang mengagetkan. Tapi justru inilah yang tidak akan membuat kami melupakan tempat tersebut.

Begitu sampai di sana, kami baru ngeh dg maksud Akiko soal backsound tadi. Di Inakaya, sang chef berada di tengah-tengah restoran, sehingga ia menjadi main of attention pengunjung restoran yang jumlahnya memang disengaja tidak terlalu banyak, mungkin sekitar 25 kursi.

Saat itu chef yang kami jumpai badannya gede banget. Curiga dia dulunya pemain sumo *lirik tajam sang koki*

Pun juga dengan pelayan lainnya yang kesemuanya laki-laki. Badannya kekar2. Takut book.

Nah, di sana ada tradisi jika ada pesanan, sang waiter akan meneriakkan  pada koki isi pesanan tersebut. *I mean literally meneriakkan*, di mana dilanjutkan dengan pengulangan yg sama oleh si chef, tak luput dengan volume yg super stereo nan membahana.

Demikian juga saat sang chef menyuguhkan hidangan, ia juga akan berteriak, yang disusul dengan waiter-2 lainnya di mana dengan kompaknya mengulangi kalimat yang sama.

Chef kami saat itu badannya kayak gini, jadi bayangkan saja seberapa 'cethar' teriakannya :p


Begitu terus selama acara makan berakhir, pengunjung restoran akan disuguhi suara-suara luar biasa ini. Penuh energi, fun, dan tentunya one of a kind experience!

Keunikan tidak berhenti sampai di situ. Kebetulan, kami sempat menyaksikan pertukaran shift di sana.

Mereka ternyata punya tradisi sendiri saat pertukaran shift antara waiter-chef ini. Kamipun dilibatkan dalam tradisi ini di mana kami diajari melakukan semacam 'tepuk pramuka' saat mereka berganti tugas. Seru!

Not to mention the good food di sana ya. Oia, saking terkenalnya Inakaya, sejumlah seleb Hollywood ternyata suka makan di sini kalau lagi pas di Jepang, termasuk Tom Cruise dan Lady Gaga.

Di tempat ini juga saya merasakan dan diajari minum Sake lsg dari Mr Nashimura (Canon Singapura). Kalo untuk urusan pegang stick yg bener, Mr Nozaki lah yang dg sabar ngajarin saya.

According to Mr Nashimura, ada beberapa cara minum Sake. Salah satunya adalah dengan menaruh garam di tangan sebelum menyeruput sake. *Bingung jelasinnya :D Oia, sebelum sake diminum, saya dianjurkan untuk mencium aromanya terlebih dulu, yg memang 'khas' :D

Waktu itu saya memilih memakai masu, wadah sake berbentuk kotak yang terbuat dari kayu khusus. Seperti ini:


Salah satu menunya:


 Some of us busy taking pictures:



Great place, great food, great experience!

**Ujung-ujungnya gak sempet nulis Japan trip per harinya. So I just post the pics instead :p






Friday, February 8, 2013


Laporan dari Jepang

Terjeblos 'Mesin Waktu' di Edo-Tokyo Museum


Tokyo - Tokyo punya atraksi seru untuk membawa turisnya ke zaman Jepang kuno, yaitu Edo-Tokyo Museum. Di sana, Anda akan dibawa melihat Tokyo di zaman dulu lewat miniatur. Rasanya, bagaikan terjeblos mesin waktu.

Setiap kota memiliki sejarahnya sendiri. Termasuk kota yang baru-baru ini mendapat predikat sebagai kota termahal di dunia dari Economist Intelligence Unit, yaitu Tokyo.

Salah satu tempat yang bisa menceritakan sejarah Tokyo adalah Edo-Tokyo Museum. Edo-Tokyo Museum terletak dekat dengan stadium sumo Ryogoku di Tokyo. Sebuah pilihan tempat yang tepat untuk turis yang ingin menggali lebih dalam sejarah Tokyo.

Minggu lalu, detikTravel pun berkunjung ke museum ini. Patung seorang pria dalam balutan pakaian tradisional berdiri gagah di dalam Edo-Tokyo Museum. Ia berdiri seakan siap menyambut pengunjung yang datang.

Sosok yang diabadikan dalam bentuk patung tersebut, tentu bukanlah orang biasa. Menurut pemandu wisata kami, Akiko, patung tersebut merupakan patung Tokugawa Ieyasu. Lebih dari 4 abad lalu, tepatnya di tahun 1590, Tokugawa Ieyasu mendirikan benteng pertahanannya di Edo.

Edo kala itu adalah sebuah desa terpencil. Tidak ada yang menyangka kalau desa yang dulunya diselimuti alang-alang ini bisa menjelma menjadi sebuah kota modern. Bahkan, tak ada yang bisa menampik daerah ini menjadi salah satu kota terpenting di dunia.

Kemudian pada tahun 1868, nama Edo diubah menjadi Tokyo. Sejak itu, kota ini bertransformasi dengan cepat. Dalam perjalanannya, Tokyo telah berhasil melalui beberapa bencana besar. Beberapa bencana itu adalah gempa bumi Great Kanto di tahun 1923, hingga serangan mengerikan saat Perang Dunia II di tahun 1945.

Mengunjungi museum yang dijalankan oleh pemerintah ini, pengunjung seakan dijebloskan ke mesin waktu. Jelas saja, Edo-Tokyo Museum menampilkan berbagai replika bangunan Tokyo di Zaman Edo yang dibuat dengan sangat detil.

Setelah melintasi Jembatan Nihonbashi, kami disajikan dengan replika yang menggambarkan suasana di area sebelah utara jembatan ini. Tentu semua ditampilkan sesuai dengan suasana pada periode tersebut. Replika ini berisi 600 miniatur orang dengan penggarapan yang hati-hati, terlihat dari penampakannya.

Berangkat dari replika ini, kami pun menelisik lebih dalam ke Tokyo di masa lalunya. Selain suasana kota, kami juga diajak untuk melihat gaya hidup dan kebudayaan mereka saat itu, melalui tiruan rumah tradisional, sistem perairan, termasuk kendaraan yang populer di zamannya.

Bilik telepon pertama di Jepang juga dipajang di Edo-Tokyo Museum. Tak ketinggalan properti dan kostum yang dipakai di pementasan teater terkenal Kabuki, Sukeroku, ikut mejeng di museum yang didirikan pada Maret 1993 silam ini.

Lebih asyik lagi, pengunjung bebas naik ke koleksi museum berupa kendaraan tradisional warga Jepang yang populer di masanya. Seperti yang terlihat di foto, teman saya, Kai Ying dari Singapura, asyik berpose di atas salah satu alat transportasi yang dipamerkan.

Dari berbagai replika yang ditampilkan, kami pun dengan antusias menyaksikan transformasi Edo menjadi Tokyo dengan mulut yang tak henti berdecak kagum.

Jika ingin memasukinya, sisihkan uang 600 Yen (Rp 62.000) untuk menebus tiket masuk dewasa. Butuh waktu sekitar 2 jam untuk menjelajah museum ini hingga tuntas.

Selamat bernostalgia dengan Tokyo!



This article can be read on detikTravel. My first piece here :)